Showing posts with label pertanian organik. Show all posts
Showing posts with label pertanian organik. Show all posts

Manajemen Hama dan Penyakit (pertanian organik)

Manajemen Hama dan Penyakit
Manajemen hama dan penyakit, mencakup kegiatan-kegiatan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dapat menyebabkan penurunan produksi dan mutu, dengan memperhatikan aspek keamanan produk dan kelestarian lingkungan serta sumber daya alam. Pengendalian OPT dilakukan dengan prinsip Pengendalian Hama Penyakit Terpadu (PHT).
Prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT)PHT dapat dilakukan dengan cara:
- Fisik, membunuh organisme pengganggu secara manual
- Biologi, memanfaatkan peranan agens hayati seperti predator dan patogen
- Kultur teknis, dengan penanaman varietas toleran, pengaturan jarak tanam,
pengaturan drainase, pemupukan berimbang, penjarangan buah, dll.
- Kimiawi, merupakan alternatif terakhir, dengan mempertimbangkan
ambang ekonomi.
Pengendalian dengan Pestisida Hayati (alami)Pengendalian juga dapat menggunakan pertisida hayati yang akrab lingkungan, disebut demikian karena bahan kimia nabati ini dapat mudah terurai, dapat dibuat oleh petani karena bahan baku tersedia disekitar lokasi, dan harga pembuatan yang terjangkau.

Kelemahan pestisida nabati adalah:
a). Daya tahan yang singkat (sangat mudah berubah/terurai), oleh karena itu volume
aplikasi harus direncanakan dengan cermat agar efisien,
b). Konsentrasi larutan yang dihasilkan masih tidak konsisten karena sangat
tergantung pada tingkat kesegaran bahan baku.
c). Diperlukan standar pengolahan untuk tiap tanaman dan standar aplikasi
penggunaan bagi pengendalian OPT

sumber  : http://www.organicindonesia.org

pertanian organik

 hai para sahabat anak ptp, rasnya sudah lama saya tidak berbagi kepada kalian semua. kali ini saya ingin berbagi sedikit mengenai apa sebenarnya pertanian organik itu. berikut ulasan mengenai pertaian organik.

Pertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Pengolahan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Yang dimaksud dengan prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Pertanian organik juga harus didasarkan pada siklus dan sistem ekologi kehidupan. Pertanian organik juga harus memperhatikan keadilan baik antarmanusia maupun dengan makhluk hidup lain di lingkungan. Untuk mencapai pertanian organik yang baik perlu dilakukan pengelolaan yang berhati-hati dan bertanggungjawab melindungi kesehatan dan kesejahteraan manusia baik pada masa kini maupun pada masa depan.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Pertanian Organik Modern
Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

itu saja mengenai pertanian organik, silahkan berikan komentar atau saran demi kemajuan mengenai artikel ini.







CARA MEBUAT RAMUAN ALAMI UNTUK MENUNJANG PERTANIAN ORGANIK

Pembuatan pupuk kompos maupun pestisida alami untuk mempercepat proses fermentasi biasanya digunakan bahan masukan bakteri. Kegunaannya agar proses pembuatannya lebih cepat. Dengan memasukan bakteri fermentasi dalam pengomposan dapat berlangsung 1- 2 minggu. Prinsipnya bakteri itu membantu mempercetat proses pengomposan. Bakteri yang biasa digunakan dan banyak dijual di toko-toko pertanian adalah EM-4, namun untuk menghemat biaya kitapun dapat membuat bakteri sendiri dengan berbagai cara dari bahan- bahan yang kita miliki dan hasilnya tidak kalah dengan bakteri yang dijual seperti EM-4.

I. Cara pertama
Bahan:
1. Kohe (kotoran kambing, sapi yang masih ada di dalam usus dan
belum berbentuk kotoran) sebanyak 5 liter
2. Terasi ¼-1 kg
3. Katul/bekatul minimal 3 kg
4. Buah-buahan matang secukupnya atau dapat diganti dengan 1/4kg gula merah/gula pasir/tetes tebu (pilih salah satu)
Cara pembuatan:
1. Kotoran kambing atau sapi dikeluarkan dari dalam usus
2. Campurlah kotoran yang agak keras dan yang sudah lunak. Bila terlalu keras berilah sedikit air.
3. Campuran tersebut dimasukan kedalam kain, kemudian diperas hingga tinggal ampasnya dan air perasannya merupakan bahan dasar bakteri alami ditampung pada sebuah wadah/tempat.
4. Rebus air sebanyak 5 liter di dalam panci besar hingga mendidih.
5. Masukan terasai yang sudah dihaluskan sambil di aduk aduk, kemudian masukan juga katul secara perlahan-lahan lalu dinginkan
6. beberapa jenis buah-buahan matang seperti nanas, mangga, pisang, pepaya dan lain diparut kemudian diperas dan diambil sari buahnya.
7. Masukan air perasan sari buah-buahan tadi ke kalam adonan terasi dan bekatul, serta masukan juga 5 liter air perasan kotoran dan aduk hingga merata.
8. Simpan di tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung selama satu minggu.
9. Bahan siap digunakan untuk pembuatan kompos.

II. Cara kedua
Bahan:
1. Berbagai jenis sari buah-buahan.
2. Tetes air nira kelapa atau aren atau dapat diganti dengan gula pasir yeng diencerkan seperti tetes.
Cara Pembuatan:
1. Buah-buahan yang masak dihancurkan atau diparut, diperas dan diambil sari buahnya
2. Air perasan sari buah dicampur dengan tetes gula/nira dengan perbandingan 1:1
3. Simpan pada tempat yang tidak terkena cahaya matahari selama satu minggu
4. Bahan tersebut siap digunakan untuk pembuatan kompos atau pembuatan pupuk cair dengan penambahan air 1:1

SOURCE : KOLEKSI GERBANG PERTANIAN.